Saturday, December 5, 2015

thumbnail

Parade Peringatan Hari Difabel Internasional "Society for All"

Posted by Iis Ernawati N.H.A  | No comments

Dokumentasi Pribadi
                            Being difable doesn’t mean they’re unable, they able in different ways

Pesan tersebut terpampang di backdrop Panggung Demokrasi UIN Sunan Kalijaga sebagai bentuk resistensi atas anggapan sebagian masyarakat selama ini yang menganggap difabel sebagai kelompok rentan dan tak berkemampuan seperti manusia pada umumnya. Kamis (3/15) PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Forum Sahabat Inklusi (ForSi) mengadakan peringatan Hari Difabel Internasional dengan mengangkat tema “Society For All,” kelanjutan dari rangkaian acara sebelumnya "Seminar dan Launching Buku Fikih (Ramah) Difabel" (2/12) di Hotel Grand Quality Yogyakarta.

“Acara ini bertujuan untuk mensosialisasikan kesadaran di kalangan akademisi UIN dan masyarakat sekitar. Sehingga kedepan teman-teman difabel lebih enjoy dalam menjalani hidup dan  melakukan studi di UIN,” jelas Muhammad Wildan Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dalam sambutannya.

Kegiatan diperuntukkan umum dan dihadiri oleh berbagai pihak seperti mahasiswa, masyarakat umum dan berbagai organisasi dan aktivis difabel, dikemas dengan berbagai rangkaian acara seperti menyanyikan lagu Indonesia raya versi bahasa isyarat, penampilan Forsi Band dan Deaf Pantomim yang puncaknya berupa parade aksi damai (long march) sepanjang Jalan Timoho depan UIN Sunan Kalijaga hingga Jalan Laksda Adisucipto disertai pembagian seribu bunga kepada pengendara motor dan masyarakat sekitar.

Parade inklusi ini mendapat perhatian dari sebagian besar pengendara jalan. Mereka memperhatikan dan mulai membaca pesan-pesan di poster yang dibawa oleh para peserta, begitu juga dengan para mahasiswa ketika parade dilanjutkan memasuki area kampus barat. Suara riuh tepuk tangan terdengar ketika pejalan melintasi jalan samping Fakultas Sains dan Teknologi. Pemimpin parade  melakukan orasi sementara pejalan lainnya membagikan bunga. Sejalan dengan tema yang diangkat, aksi kecil ini diharapkan dapat menjadi pintu pembuka kesadaran masyarakat kampus maupun masyarakat luas akan keberadaan difabel. Mereka juga ingin disejajarkan dengan yang lainnya, diikutksertakan dalam berbagai sektor publik, pendidikan, pemerintahan maupun sosial kemasyarakatan, seperti yang tertulis dalam salah satu poster bahwa para difabel tidak menginginkan belas kasihan, mereka hanya berharap masyarakat menerima dengan memberikan kesetaraan kehidupan dan tak ada pembedaan-pembedaan lagi.

“Tidak ada istilah difabel dan normal. Lahirnya para difabel apakah itu berarti mengisyaratkan bahwa Pencipta kita tidak sempurna karena telah menciptakan produk gagal. Padahal sejatinya manusia diciptakan sama, manusia lainnya lah yang membedaka-bedakan,” ucap Kepala PLD Muhrisun Afandi.

Hari difabel internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember. Pertama kali disponsori oleh Perserikatan bangsa-Bangsa sejak tahun 1992. Peringatan bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para difabel dan memberikan dukungan untuk meningkatkan martabat, hak dan kesejahteraan mereka (Iis).
Read More»

Wednesday, September 16, 2015

thumbnail

Pelatihan Relawan Inklusi Semester Ganjil 2015/2016

Posted by Iis Ernawati N.H.A  | No comments

Yogyakarta, Senin (14/09) telah diadakan “Pelatihan Relawan Inklusi Semester Ganjil 2015/2016”  bertempat di Ruang Pertemuan lantai 3 Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga. Acara ini merupakan agenda rutin tiap semester Pusat Layanan Difabel (PLD). Tujuannya untuk memberikan bekal dan ketrampilan relawan baru dalam mendampingi perkuliahan mahasiswa difabel di kampus. Selain itu mereka juga nantinya akan menjadi salah satu agen yang membantu mengkampanyekan inkusivitas di kampus maupun luar kampus.
    Animo pendaftar relawan tahun ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai fakultas dan Program Studi, bahkan ada pendaftar mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga dan mahasiswa S3 dari Universitas Gajah Mada (UGM). Keingintahuan dan kepedulian terhadap isu-isu inklusi mendorong berbagai pihak untuk bergabung bersama PLD. Jumlah yang banyak ini tak luput pula dari peran Forum Sahabat Inklusi (ForSi) dalam membantu menyebarkan informasi kerelawanan, mulai dari mulut ke mulut, penempelan poster ke setiap fakultas, sharing poster ke media online hingga membuka stand pendaftaran secara terbuka.
Banyaknya pendaftar yang mencapai ratusan membuat kegiatan pelatihan dibagi menjadi dua kloter, yakni Hari Senin dan Rabu di minggu yang sama. Hal ini juga untuk mengantisipasi peserta yang berhalangan hadir karena pelatihan dilakukan di hari kerja.
Acara dimulai pada pukul 09.00 diawali dengan penjelasan profil Pusat Layanan Difabel oleh Jamil Suprihatiningrum. Selanjutnya pengenalan istilah difabel, pendampingan difabel oleh relawan serta sharing pengalaman oleh Alumni Abdullah Fikri. Fikri menjelaskan PLD menggawangi bagaimana kampus inklusif terbangun di UIN Sunan Kalijaga, bagaimana struktur sosial terbangun: tidak menyalahkan difabel. “Gedung kampus yang tidak aksesibel bukan berarti difabel tidak mampu,”tambahnya. Ia juga berpesan hendaknya relawan harus mengubah paradigma, yang tadinya berangkat dari rasa kasihan, kemudian mulai membangun jiwa sosial dan menjadikan difabel sebagai sahabat.
Sesi ketiga penjelasan mengenai etika pendampingan relawan oleh Siti Aminah. Aminah memulai presentasinya dengan memaparkan permasalahan kerelawanan dan alur menjadi relawan di PLD. Pembekalan etika kerelawanan bertujuan memberikan rambu-rambu apa yang harus dan tidaak harus dilakukan oleh seorang relawan. Pendampingan relawan meliputi pendampingancinput KRS, orientasi ruangan awal semester, layanan mobilitas, note-taking, text reading, alih-format materi kuliah, pendampingan UTS/UAS dan pendampingan skripsi. Ketrampilan yang harus dimiliki relawan di antaranya ketrampilan menggandeng, menyapa, pengetahun dan pencarian solusi.”Menjadi relawan niatkan untuk aktualisasi diri, bukan hanya sekadar menggali,” pesan Aminah. Maksudnya, para relawan tidak hanya melakukan tugas kerelawanan saja, tetapi sebaiknya mereka juga mengembangkan bakat mereka untuk membantu PLD dalam membangun kampus inklusif.
Menjelang siang hari acara dilanjutkan dengan sesi sharing dan tanya jawab oleh relawan baru, relawan lama, mahasiswa difabel dan pemateri, kemudian ditutup dengan pengisian blanko rencana para relawan setelah mendapat pembekalan hari itu. (Iis)

Read More»

Tuesday, May 5, 2015

thumbnail

Didukung AHM, PLD Sediakan Layanan Mobilitas bagi Difabel

Posted by PLD UIN Sunan Kalijaga  | No comments

Rektor UIN Sunan Kalijaga menerima langsung penyerahan motor mobilitas dari AHM
Memperingati ulang tahunnya yang ke-8, tanggal 2 Mei 2015, Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga meluncurkan satu lagi layanan inovatif untuk mahasiswa difabel yang kuliah di UIN Sunan Kalijaga. “Kehidupan mahasiswa itu tidak terbatas di kampusnya sendiri. Untuk mencari referensi di perpustakaan lain, untuk kegiatan praktikum, atau mengikuti kegiatan-kegiatan akademik yang diselenggarakan di luar kampus, mahasiswa memerlukan mobilitas tinggi,” kata Arif Maftuhin yang sudah dua tahun ini memimpin PLD UIN Sunan Kalijaga.
“Kebutuhan mobilitas itu juga dirasakan oleh mahasiswa difabel, khususnya mahasiswa tunanetra dan pengguna kursi roda. Sayangnya, sarana pendukung mobilitas masih sangat minim. Angkutan umum kita masih terbatas jumlahnya dan belum ramah difabel. Ram-ram halte Transjogja, misalnya, masih sangat curam. Pengemudi pun kadang tidak mendekatkan kendaraannya ke halte dan beberapa kali membuat tunanetra terjatuh.” Lanjut Arif
“Dari itulah kami berusaha untuk mencari alternatif solusinya. Di kampus-kampus negara maju, mahasiswa berkursi roda bisa mendapatkan fasilitas mobil antar jemput yang disediakan oleh pemerintah. Di Indonesia, layanan seperti itu belum terpikirkan.”
UIN Sunan Kalijaga saat ini memiliki 50 mahasiswa difabel , sebagian besar tunenetra dan beberapa orang berkursi roda. Untuk membantu mobilitas mereka, Pusat Layanan Difabel meluncurkan “Layanan Mobilitas” berupa sepeda motor modifikasi yang bisa mengangkut kursi roda. Kendaraan ini didonasikan oleh  CSR Astra Honda Motor. 
Deputy Head of Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin mengatakan keterbatasan fisik tidak seharusnya mengurangi hak setiap orang untuk menimba pengetahuan dan belajar secara formal di perguruan tinggi. Karena itu, pihaknya mengapresiasi komitmen dan ketulusan jajaran dosen dan mahasiswa yang aktif di PLD UIN Yogjakarta dalam membantu memberikan kemudahan bagi mahasiswa difabel. “Kami terpanggil untuk dapat melakukan hal yang sama sesuai kemampuan kami. Kami harapkan donasi Honda Spacy FI berdesain khusus ini dapat meningkatkan layanan mobilitas bagi para mahasiswa difabel yang punya passion tinggi dalam study.”
Honda Spacy FI yang didonasikan AHM memiliki desain khusus yang mengedepankan estetika, unsur keselamatan yang baik, dan kemudahan akses bagi penumpang difabel. Di sisi sebelah kiri, ditambahkan box serbaguna dengan seperangkat kursi roda yang dapat mengangkut 1 penumpang difabel, dengan akses pintu yang memudahkan difabel naik turun, namun tetap aman dan nyaman saat dijalankan.
Dengan kendaraan itu, para relawan PLD yang berjumlah 50 orang akan siap membantu difabel yang memerlukan mobilitas baik di lingkungan kampus maupun keluar kampus. “Ini program rintisan dan kami harap ke depannya bisa lebih baik lagi baik deri segi kendaraannya maupun intensitas layanannya.” Jelas Arif.
Acara serah terima kendaraan akan diselenggarakan di ruang teatrikal Persputakaan UIN Sunan Kalijaga, Senin 4 Mei 2015, dalam rangkaian kegiatan Milad PLD ke-8.
Read More»

thumbnail

PLD Serahkan "Anugerah Inklusi 2015"

Posted by PLD UIN Sunan Kalijaga  | No comments

Para penerima "Anugerah Inklusi 2015"
Sejak tahun 2007, UIN Sunan Kalijaga telah menetapkan dan terus mengembangkan diris ebagai universitas inklusif. UIN Sunan Kalijaga membuka diri untuk menjadi tempat kuliah para mahasiswa difabel dari berbagai penjuru negeri. “Saat ini kami melayani 50 orang mahasiswa difabel yang tersebar di berbagai program studi dan fakultas, dan setiap tahunnya menerima tidak kurang dari 15 mahasiswa baru difabel,” kata Arif Maftuhin, kepala Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga.
Usaha UIN Sunan Kalijaga untuk terus meningkatkan layanannya bagi mahasiswa difabel dan mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. “Meskipun UIN Sunan Kalijaga sudah membentuk PLD untuk melayani kebutuhan akadmeik mahasiswa difabel, upaya mewujudkan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen semua pihak. Masing-masing dengan tugas dan tanggungjawabnya harus berkontibusi karena inklusi itu bukan hanya soal fasilitas dan infrasutruktur, tetapi juga soal komitmen, visi, dan kebijakan.”
Karena itu, Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga merasa perlu untuk memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang selama ini telah secara nyata berkontribusi bagi terwujudnya kampus inklusif di UIN Sunan Kalijaga. Untuk tahun ini, baru tiga kategori yang mendapatkan penghargaan yang diberi nama “Anugrah Inklusi” itu. Anugrah diberikan kepada tokoh, lembaga dan relawan.
Untuk kategori tokoh, penghargaan diberikan kepada Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah dan Prof. Dr. H. Musa Asy’arie. Keduanya adalah mantan rektor UIN Sunan Kalijaga. “Pak Amin adalah rektor yang ‘melahirkan’ PLD. Ide sederhana kami tentang pendidikan inklusif direspon dengan baik oleh beliau. Tanpa menunggu lama, kami mendapatkan kantgor untuk memulai aktifitas pendataan dan pengorganisasian difabel dan relawan. Tanpa pandangan beliau yang visioner, tidak mungkin kita membentuk lembaga yang belum pernah ada sebelumnya di universitas mana pun di Indonesia.” Jelas Andayani, pendiri PLD yang saat itu membawa ide ini kepada Amin Abdullah.
“Pak Musa dipilih karena komitmennya yang tinggi untuk mengembangkan PLD. Begitu memegang tampuk kepemimpinan dari pendahulunya, Pak Musa langsung memilih layanan difabel sebagai salah satu aspek unggulan dan keunikan yang dimiliki UIN Sunan Kalijaga. Pada masa kepimpinan Pak Musa juga UIN Sunan Kalijaga terpilih untuk menerima penghargaan Inclusive Education Award 2013 dari Kemntrian Pendidikan Nasional,” kata Ro’fah, mantan direktur PLD 2010-2013.
Untuk kategori lembaga, juri PLD memutuskan untuk memilih Bagian Rumah Tangga UIN Sunan Kalijaga. Menurut Arif, “Unit-unit lain juga berkontribusi secara signifikan. Tetapi karena kami harus memilih yang ‘paling’, maka untuk tahun 2015 ini kami memilih Bagian Rumah Tangga UIN sebagai pemenangnya. Unit ini sangat responsif terhadap kebutuhan difabel. Sebagai misal, begitu kami menerima mahasiswa berkursi roda, Bagian Rumah Tangga UIN segera memberi fasilitas ram ke masjid dan merenovasi kamar kecil agar bisa segera digunakan untuk mahasiswa difabel.”
Sementara dua relawan yang mendaparkan “Anugrah Inklusi 2015” adalah Galih Aulia Rahman dan Sulistyari Ardyantika. Mereka adalah relawan yang dinilai sangat aktif dan telah cukup lama membantu kegiatan-kegiatan layanan PLD. “Galih ini adalah salah satu juru isyarat khutbah di Masjid UIN sementara Tika terus aktif menjadi relawan dari saat kuliah S1 dulu hingga kini melanjutkan S2 di UIN Sunan Kalijaga,” jelas Arif.
Pemberian Anugrah Inklusi 2015 ini diharapkan dapat mendorong pihak-pihak lain untuk terus meningkatkan komitmen dalam mewujudkan kampus inklusif sesuai bidang dan tugas masing-masing. “Tahun depan, kami berencana memperluas kategori ini untuk para dosen, pihak swasta, dan pihak luar yang berkontribusi bagi UIN.” (*)
Read More»

    If you would like to receive our RSS updates via email, simply enter your email address below click subscribe.

back to top