Monday, December 5, 2016

thumbnail

Bedah Buku "Keberpihakan dan Kepedulian Lintas Iman untuk Difabel"

Posted by Faroha Marzuki  | No comments


Dalam memperingati Hari Difabel Internasional (International Day of People with Disability) 05/12/2016, Pusat Layanan Difabel (PLD) bekerja sama dengan Interfidei menyelenggarakan bedah buku yang berjudul "Keberpihakan dan Kepedulian Lintas Iman untuk Difabel" yang bertempat di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Terbitnya buku ini berawal dari keprihatinan para penulis yang melihat isu difabel berkaitan dengan agama yang belum tersentuh ke ranah publik. Buku ini menjadi salah satu pengawal dalam memahami hak-hak difabel dalam ranah agama dan tempat ibadah.

Terdapat 3 pemateri yang mengupas buku tersebut. Abdullah Fikri, SHI, M.SI (PLD), Setia Adi Purwanto (Ketua Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Yogyakarta) dan Abu Yazid (Kepala Sub Bagian Pengembangan Kesejahteraan Rakyat Bappeda DIY).

Pesera yang hadir lebih dari 200 orang ini terlihat sangat antusias untuk memahami isu-isu difabel, Hal ini, terlihat ketika sesi tanya jawab berlangsung. Diskusi berlanjut hingga ke pembahasan undang-undang no 8 tahun 2016. Pembedah buku, Setia Adi Purwanto menyatakan kutipan menarik mengenai keberagaman dan keseragaman. " Keragaman adalah suatu keniscayaan sedangkan keseragaman adalah suatu penistaan,"jelasnya. (faroha)



Read More»

thumbnail

Anugerah Inklusi 2016

Posted by PLD UIN Sunan Kalijaga  | No comments

Para Penerima Anugerah Inklusi 2016
05/12/2016. Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali memberikan penghargaan tahunan, Anugerah Inklusi kepada pihak-pihak yang dinilai berjasa dalam mewujudkan UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas inklusif. Tahun ini Anugerah Inklusi diberikan kepada tiga kategori: perorangan, lembaga, dan mitra.

Untuk kategori perorangan, anugerah diberikan kepada Andayani,  MSW dan Ro'fah, Ph.D. Bu Andayani adalah salah satu pendiri PLD dan menjadi direktur pertamanya. Bu Andayani berperan besar dalam meletakkan pondasi awal organisasi, penanaman nilai kerelawanan, dan visi advokasi PLD. Sementara Bu Ro'fah yang menggantikan Bu Andayani sebagai direktur PSLD yang kedua menjadi motor pengembangan PLD baik secara kelembagaan maupun jaringan. Tanpa mereka berdua, PLD tidak akan menjadi seperti sekarang.

Untuk kategori lembaga, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga dipilih karena komitmen tiada henti untuk melayani mahasiswa difabel.Sejak dari awal, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga sangat merespon kebutuhan difabel. Dimulai dengan disediakannya blind corner yang kemudian dikembangkan menjadi Difabel Corner pada tahun 2012. Perpustakaan UIN adalah perpustakaan universitas pertama di Indonesia yang menyediakan koleksi aksesibel dan layanan aksesibilitas untuk para mahasiswa.

Sedangkan kategori mitra, Anugerah Inklusi 2016 diberikan kepada PT Astra Honda Motor yang dalam waktu dua tahun terakhir mendukung upaya PLD dalam menanti difabel. Selain sepeda motor mobilitas, AHM tahun ini meingkatkan bantuan berupa beasiswa. “Beasiswa yang diberikan Astra tahun ini adalah tindak lanjut dari bantuan kendaraan mobilitas yang sudah diberikan tahun lalu. Karena itu, komitmen Astra sangat kami apresiasi dan mereka pantas mendapatkan Anugerah Inklusi 2016,” jelas Arif Maftuhin, Kepala PLD UIN Sunan Kalijaga.
Read More»

thumbnail

Beasiswa Astra untuk Difabel dan Relawan PLD

Posted by PLD UIN Sunan Kalijaga  | No comments

 Deputy Head of Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin menyerahkan dokumen MOU Astra-UIN Sunan Kalijaga yang diterima oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasam, Dr. H. Waryono

Dalam rangkaian acara peringatan Hari Difabel Internasional, Senin 5/12/2016, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dipercaya oleh Yayasan Astra Honda Motor untuk menyalurkan beasiswa kepada para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang aktif di Pusat Layanan Difabel (PLD), baik sebagai relawan atau mahasiswa difabel.

Pemberian beasiswa ini adalah bagian dari komitmen panjang PT AHM dalam dunia pendidikan. Ahmad Muhibbuddin mengatakan, “Pemberian bantuan ini sejalan dengan filosofi moto Satu Hati. Kami ingin menemani masyarakat mewujudkan mimpi mereka, termasuk mahasiswa difabel di UIN Yogyakarta, kampus pertama di Tanah Air yang memiliki concern tinggi dalam membantu generasi muda difabel untuk bisa kuliah.”

Bantuan yang diberikan tahun ini adalah bantuan kedua yang diterima UIN dari PT Astra Honda Motor. Tahun lalu, CSR PT AHM memberikan sepeda motor modifikasi yang dirancang untuk mengangkut pengguna kursi orda dan kursi rodanya sekaligus. "Bantuan itu sangat bermanfaat baik sebagai media layanan maupun advokasi dan sosialisasi," kata Arif Maftuhin, Kepala PLD.

Sementara itu, dalam sambutannya, Dr. Waryono, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama berharap agar langkah AHM ini diikuti oleh pihak swasta lainnya. "Pendidikan inklusif adalah tanggungjawab semua pihak. Kita berharap lebih banyak lagi swasta yang peduli dengan usaha-usaha kita mewujudkan kampus inklusif."

Beasiswa Astra ini akan diberikan kepada dua kategori: mahasiswa difabel dan relawan PLD. "Sebagian mahasiswa difabel adalah mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka sudah sejauh ini meniti perjalanan mencari ilmu. Mereka perlu mendapatkan dukungan agar terus bersemangat dalam belajar," tambah Arif.

Sedangkan para relawan perlu diapresiasi karena selama ini mereka telah tanpa pamrih membantu PLD dalam melayani mahasiswa difabel. Menurut Arif, "Mereka sudah bekerja demi poin (nilai luhur yang mereka yakini), bukan demi koin. Saatnya memberikan apresiasi bagi kerja keras mereka lewat beasiswa."


Read More»

Saturday, December 3, 2016

thumbnail

Menjadi Telinga bagi Sahabat Tuli

Posted by Faroha Marzuki  | No comments


Jiwanya tegar meski rintangan terus menemani langkahnya. Itulah sosok Rikha Ramadhania. Perempuan kelahiran Yogyakarta 1995 ini mengalami hambatan dalam mobilitasnya sehari-hari. Kedua telapak kakikanya memiliki syaraf yang lemah. Kaki kanannya lebih lemah hingga tak mampu menopang tubuh kecilnya. Kerja lututnya pun menjadi semakin bertambah berat. “Aku selalu berdo’a agar lututku kuat,”ucapnya.

Kelainan pada kakinya diketahui pada usia 9 bulan. Terlihat dari perkembangan kakinya yang tak seperti anak-anak pada umumnya. Usia 1 tahun, Rikha masih belum bisa berdiri. Melihat keganjilan yang terjadi pada putrinya, orangtua Rikha membawanya ke rumah sakit untuk melakukan chek dan terapi. Pada awalnya Rikha menjalani terapi di 3 rumah sakit di Yogyakarta. Setelah beberapa tahun, dokter mengatakan terapi yang dilakukan Rikha sudah cukup. Kemudian Rikha direkomendasikan untuk meminum obat penguat saraf secara rutin. Obat penguat saraf itu harus dikonsumsi Rikha sampai usianya memasuki sekolah dasar. “Akhirnya aku hanya terapi di rumah dengan menggunakan bambu berkaki 4 untuk melatih kakiku berjalan,” kenang Rikha.

Memasuki usia 12 tahun, Rikha kembali melakukan pemeriksaan di salah satu Rumah Sakit di Solo. Hasilnya, Rikha disarankan untuk memakai sepatu khusus yang dirancang agar dapat menguatkan telapak kakinya. Namun, Sepatu itu justru membuat Rikha kesulitan dalam berjalan. Hal ini pun yang membuat Rikha tidak bisa memakai sepatu itu lebih dari setahun. “Sepatu khusus itu tidak mudah dipakai dan dan tak mudiah dilepaskan. Bikin nggak nyaman,” ungkap Rikha.

Tetapi, hambatan yang dialaminya bukan menjadi alasan untuk tidak menimba ilmu di sekolah umum. Meskipun ia tahu akan mengahadapi banyak tantangan. Seperti ketika mata pelajaran olahraga di sekolah. Sejak dibangku SD hingga SMA, Rikha mendapat banyak keringanan dalam mata pelajaran tersebut. Ketika teman-temannya berolahraga, Rikha  diminta untuk tetap hadir di lapangan. Untuk mendapatkan nilai olahraga, biasanya Rikha diminta oleh guru untuk membuat tugas tertentu yang berkaitan dengan olahraga.

Namun ada juga guru yang tetap mengharuskan Rikha mengelilingi sekolah sebanyak 5 kali sebagai pengganti ujian praktek olahraga. “Aku sudah berusaha untuk memenuhi permintaan beliau, namun apa daya. Aku hanya sanggup melakukannya 3 kali putaran. Itu pun kaki rasanya sudah sakit banget untuk jalan,” kisahnya.

Saat ini Rikha tengah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Tarbiah, UIN Sunan Kalijaga dengan jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiah (PGMI). Jurusan yang membawanya pada sebuah cita-cita luhur yaitu mampu mendirikan sekolah bagi mereka yang tak mampu. Rikha terinspirasi dengan seorang perempuan difabel tunadaksa, yang sukses membangun sekolah bagi anak-anak kurang mampu. “Perempuan itu awalnya tidak diterima kerja dimana-mana. Terus dengan dukungan suaminya, Ia membangun sekolah gratis. Aku lihat kisahnya di TV tapi Aku lupa siapa namanya,”jelasnya.

Untuk  mobilitas setiap hari dari rumah ke kampus, Rikha mengendarai sendiri sepeda motor yang dimodifikasi beroda tiga. Tak jarang ketika diperjalanan banyak mata yang memandang aneh. Tapi Rikha tak memperdulikan hal tersebut. Rikha ingin membuktikan bahwa Ia mampu mandiri kendati memiliki keterbatasan.

Berbagai hambatan dan rintangan yang dialaminya, membuat Rikha lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Dengan keahliannya dalam memahami bahasa isyarat Tuli, ia selalu berusaha menjadi penerjemah bahasa isyarat yang baik untuk teman-teman yang memiliki keterbatasan pendengaran ini. Kedua kakinya memang memiliki hambatan tapi tidak dengan kedua tangan dan pendengarannya. Rikha dengan lincah  menggerakan tangannya  dan membentuk makna-makna yang dipahami teman-teman Tuli. Karena itu Rikha sering kali diminta untuk menjadi interpreter mereka.

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Aku ingin telinga dan tanganku ini bisa membantu teman-teman Tuli dalam segala hal,”tegasnya.

Lingkungan yang tak ramah


Aksesibilitas adalah kunci kenyamanan bagi Rikha dalam menempuh pendidikannya. Sayangnya, hal tersebut belum sepenuhnya dirasakan Rikha. Seperti tempat parkir yang jauh, ruang kelas yang berada di lantai 4, serta layanan kampus lain yang membutuhkan tenaga ekstra. Hal itulah yang menjadi hambatan Rikha dalam mobilitas. “Aku pernah hampir jatuh saat menaiki tangga. Untunglah ada orang dibelakangku yang menahan tubuhku,” kenang Rikha.

Salah satu tugas dari Pusat Layanan Difabel (PLD)  adalah mengadvokasi kepentingan difabel. Setiap awal semester PLD memberikan surat pemberitahuan kepada dosen pengampu mata kuliah yang di dalamnya terdapat mahasiswa difabel. Hal ini bertujuan agar difabel mendapat perlakuan afirmatif. Misalnya, Rikha yang kesulitan dalam mobilitasnya menjadi alasan untuk memindahkan kelas yang semula di lantai 4 pindah ke lantai 1. Sayangnya hal tersebut tidak dapat dilakukan. Karena aturan Fakultas yang sudah baku. “Kalaupun bisa itu di lantai 3. Itu pernah terjadi di semester 3. Tapi ya hanya berjalan ketika itu. Semester depannya lagi tetap di lantai 4,” ungkapnya.

Rikha seringkali kerepotan membawa barang keperluannya di kampus. Seperti ketika mengerjakan tugas di perpustakaan. Ia harus membawa laptop dan buku-buku yang dipinjamnya. Lagi-lagi Rikha hanya menggeleng kepala melihat orang di sekelilingnya begitu acuh melihatnya. “Itulah yang terjadi. Kadang kecerdasan emosional tak selaras dengan kecerdasan intelektualnya,” ungkapnya lagi.

Memperingati Hari Difabel Interasional yang biasa diperingati pada tanggal 3 Desember, Rikha menyampaikan bahwa manusia harus bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dengan hal itu setiap orang dapat menerima ketentuanNya serta tidak lagi merasa malu. “Berharap lingkungan sosial semakin ramah difabel dan layanan kampus dapat aksesibel untuk difabel,” pungkasnya. (faroha)
Read More»

    If you would like to receive our RSS updates via email, simply enter your email address below click subscribe.

back to top