Friday, September 30, 2016

thumbnail

Peringatan Hari Tuli Internasional

Posted by Faroha Marzuki  | No comments


Yogyakarta, Jumat (30/9). Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga mengadakan peringatan Hari Tuli Internasional (World Deaf Day). Peringatan World Deaf Day sebenarnya sebenarnya diperingati setiap Ahad terakhir bulan September dan tahun ini jatuh pada tanggal 25 September. Acara tersebut diikuti oleh mahasiswa Tuli dan segenap keluarga besar PLD.
Bertemakan “Kita Setara” acara dimulai di depan gedung PAU UIN Sunan Kalijaga. Peserta ditemui oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama3, Dr. H. Waryono, mewakili rekotr yang sedang melakukan kunjungan dinas ke Timur Tengah.
Dalam pesannya, Pak Waryono menyampaikan bahwa perlu adanya kampanye lebih jauh agar semua orang paham isu Tuli.“Kita ini perlu lebih mengenal dan mengetahui agar lebih bisa meningkatkan layanan bagi mahasiswa Tuli."
Mewakili teman-temanny, Anggi yang ditunjuk sebagai juru bicara menjelaskan empat issu yang diusung dalam peringatan ini: (1) aksesisibilitas, (2) bahasa yang sama, (3) penggunaan dwibahasa (bilingual), oral dan isyarat dalam pendidikan, dan terakhir (4) hak pendidikan seumur hidup.
Anggi juga menekankan pentingnya penggunaan istilah Tuli (dengan T kapital, seperti Jawa, Sunda, dan Madura). "Kami tidak mau disebut 'tunarungu'. Kami ini tidak 'tuna'. Para dokter saja yang menyebut kami 'tuna'. Kami ini komunitas Budaya". Dengan begitu, bahasa Tuli setara dengan bahasa Jawa. Budaya Tuli setara dengan Budaya Madura.
Selain Anggi, beberapa mahasiswa tuli juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan masalahnya. Lia, mahasiswi IKS dan pernah diajar oleh Pak Waryono, mengingatkan perlunya para dosen untuk menyapa dan memberikan perhatian tambahan kepada para mahasiswa Tuli agar mereka tidak ketinggalan pelajaran. “Saya berharap ada pembelajaran bilingual. Agar saya bisa memahami materri kuliah,” ungkapnya dalam bahasa isyarat dengan diterjemahkan oleh relawan.
Setelah dialog sosialisasi di PAU, acara dilanjutkan dengan pawai simpati keliling kampus. Hal tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat kampus dapat memahami isu-isu komunitas Tuli dan peduli akan hak-hak mereka. Pawai simpati juga dilakukan dengan membagikan permen dan stiker dengan berbagai gambar dan pesan.
Acara peringatan Hari Tuli Internasional akan menjadi agenda rutin tahunan PLD. Kepala PLD, Arif Maftuhin berharap World Deaf Day dapat dilaksanakan dengan lebih baik lagi di tahun mendatang. Demikian halnya dengan hari difabel lain. Seperti hari Barille. “Empat isu yang diusung di Hari Tuli Internasional saya harap dapat terwujud di UIN seiring proses yang dilalui baik oleh program-program PLD maupun civitas akademik lainnya,”  tandasnya. (faroha)
Read More»

thumbnail

Sunyi tapi Penuh Karya

Posted by Faroha Marzuki  | No comments


"Tingkatkan skillmu sampai idolamu menjadi rivalmu." Itulah prinsip hidup seorang Tuli bernama Dhomas Erika Ratnasari. Baginya, keterbatasan tidak menghalanginya untuk berprestasi. Ia tak dapat mendengar; namun, berkat ketekunan berlatih ia pun mampu berbicara. Hanya saja suaranya kecil.
Ketika usianya menginjak bulan kesepuluh, Dhomas mengalami sakit panas yang terus menerus. “Usia 3 tahun, aku divonis tidak dapat mendengar,” ungkapnya. Kedua orang tua Dhomas menerima dengan lapang dada kondisi putri semata wayangnya itu. Terapi wicara menjadi alternatif untuk dapat terbiasa berkomunikasi dengan baik. Karena itulah Dhomas mampu memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya dengan membaca gerakan bibir (oral).
Perempuan kelahiran 1 September 1995 ini memiliki hobi menggambar. Memasuki Sekolah Dasar di SLB 2 Bantul (dulu SLB 4 Sewon), orangtua Dhomas mendorongnya untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan. Hasilnya sangat menggembirakan. Ia  menyabet juara kabupaten hingga provinsi untuk kategori SD. Dhomas sempat bersekolah di Cottingley Primary School di Inggris selama 3 tahun. Hal tersebut dilakukan karena mengikuti Ayahnya yang menyelesaikan PhD di Inggris. Ia sempat kesulitan dalam berkomunikasi karena menggunakan Bahasa Inggris.  Seiring berjalannya waktu ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.
Ketika bersekolah di SMP 2 Sewon Bantul, ia sempat belajar privat dengan seorang guru lukis. Sayangnya ia tidak lagi mendapatkan informasi seputar ajang perlombaan menggambar. “Aku hanya ikut lomba mengarang cerita. Alhamdulillah, Juara 1 tingkat provinsi dapat aku raih”, kenangnya.
Meskipun memiliki keterbatasan dalam pendengaran, orang tua Dhomas memilih menyekolahkan Dhomas di sekolah umum. Hanya di sekolah dasar saja ia berada di sekolah dengan siswa berkebutuhan khusus.
“Sejak SMP dan SMA tidak ada fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tapi teman-teman dan guru-guru di sekolah bisa menyesuaikan dengan keterbatasanku. Mereka berbicara pelan denganku. Yang terpenting aku dapat memahami ilmu yang disampaikan di sekolah,” tuturnya.
Menginjak bangku SMA, prestasinya semakin gemilang dengan menyabet juara 1 melukis  tinggat Provinsi, dua kali berturut-turut. Ketika itu juga Dhomas mulai melirik anime (kartun Jepang)  dan belajar menekuni bidang tersebut dengan serius. Usai SMA, ia melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengambil prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS).
“Aku memilih kuliah di UIN Sunan Kalijaga ini karena ada Pusat Layanan Difabel (PLD) yang di dalamnya terdapat fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tidak semua penjelasan dari dosen bisa aku pahami melalui gerakan bibir. Karena itu aku butuh notetaker,” jelasnya lagi.
Di semester 3 perkuliahannya, Ia mulai memberanikan diri  membuka jasa menggambar anime untuk para penggemar anime. Mayoritas penggemarnya berasal dari luar negeri. Dalam menawarkan jasa menggambar anime, Dhomas menggunakan website DevianArt. Karya-karyanya juga terdapat di akun Facebooknya.
Dari sinilah bisnis online dimulai. Awal pendapatannya hanya berkisar antara 100 sampai 300 ribu rupiah setiap bulannya. Untuk masing-masing gambar dihargai sesuai dengan tingkat kesulitan gambar yang diinginkan oleh pelanggan. Semakin hari hasil goresan tangan Dhomas diminati banyak pelanggan hingga ia dapat mengantongi 800 ribu setiap bulannya.
“Sekarang aku sedang mencoba inovasi baru dari gambar yang biasa aku buat. Bagus atau tidaknya sebuah karya bisa dilihat dari seberapa banyak pelanggan yang memminta jasa kita. Karena itu aku fokus mengembangkan gaya baru ini,” jelasnya.
Motivasi dan dukungan dari keluarga, kerabat dan teman-temannya membuat Dhomas tumbuh dengan semangat menggapai mimpi-mimpinya. Ia memiliki mimpi untuk dapat membangun suatu bidang usaha. Sehingga ia mampu membantu teman-teman berkebutuhan khusus lainnya dengan memberikan kesempatan berkarya bersaamnya.
“Aku terinspirasi oleh idolaku. Anggie Yudistia dan Dian Inggrawati yang mampu mencapai kesuksesan pada bidangnya masing-masing. Mereka bisa sukses dengan kelebihannya. Aku pun pasti bisa, Aku juga ingin membuat bangga orang tuaku dengan kesuksesanku tentunya” jelasnya lagi.
25 September lalu adalah Hari Tuli Internasional (World Deaf Day). Pusat Layan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan acara pawai simpati berkeliling kampus dengan menyeruakan pendidikan yang setara pada Jumat (30/9). Pendidikan yang setara artinya tidak ada diskriminasi terhadap difabel terutama Tuli. Dhomas berharap Tuli dapat diakui dan diterima di masyarakat.
“Kalau bisa,  tiap sekolah  dan universitas memiliki layanan juru bahasa isyarat. Karena itu sangat membantu aku dan difabel Tuli lainnya,” tutupnya (faroha).


Salah satu karya Dhomas



Read More»

Wednesday, September 28, 2016

thumbnail

Persiapan Hari Tuli Internasional

Posted by Faroha Marzuki  | No comments



Yogyakarta, (28/09) bertempat di Pusat Layanan Difabel (PLD), teman-teman Difabel Tuli mempersiapkan acara peringatan Hari Tuli Internasional yang sebenarnya diperingati setiap tanggal 25 September. Sekitar pukul 16.00 WIB acara dimulai dengan dipimpin Ridwan, selaku staff  PLD.
Rapat dihadiri Dhomas, Lia, Davin, Warkah dan teman-teman difabel Tuli lainnya. Hasil rapat tersebut telah diputuskan bahwa acara akan dia dakan pada hari jumat 30 september 2016. Selain itu, penyusunan kepanitiaan, rown down acara dan persiapan lainnya dibahas dalam rapat. Ketua panitia dipilih melalui sistem voting dan nama Anggi keluar sebagai suara terbanyak. Ia menyampaikan bahwa rapat akan dilanjutkan besok.

“Besok kamis jam 4 sore rapat akan dilanjutkan. Untuk membicarakan teknis acara Deaf Day,” jelasnya melalui bahasa isyarat.
Read More»

Wednesday, September 21, 2016

thumbnail

Pelantikan Ketua PLD Periode 2016-2020

Posted by PLD UIN Sunan Kalijaga  | No comments


Menyusul pergantian rektor UIN Sunan Kalijaga dari Prof. Drs. Akh. Minhaji, Ph.D ke Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D, UIN Sunan Kulajaga juga menata ulang para pejabat dari dekanat sampai dengan prodi dan unit-unit. Pusat Layanan Difabel (PLD) sebagai salah satu unit di bawah LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) juga ikut mengalami perubahan kepemimpinan.

Selasa, 20 September 2016 kemarin, Rektor UIN Sunan Kalijaga melantik ketua PLD yang baru untuk periode 2016-2020. Dr. Arif Maftuhin ditunjuk sebagai ketua PLD menggantikan Muhrisun M.SW yang beralihjabatan menjadi Ketua Pusat Penelitian.

Arif Maftuhin bukan sosok baru bagi keluarga PLD karena selain telah lama aktif di lembaga ini juga pernah menjabat sebagai Ketua PLD periode 2013-2015. Sebelum menjabat lagi sebagai ketua PLD, Arif menjabat sebagai ketua Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Dakwah dan Komunikasi periode 2015-2016.

Arif berharap periode keduanya di PLD dapat membawa PLD lebih baik lagi. "PLD adalah rumah saya. Semua orang tentu ingin rumahnya semakin nyaman di tempati dan semakin baik untuk anggota keluarganya. Saya akan fokus mengembangkan PLD sebagai unit layanan yang berkualitas dan menjadi pengawal UIN menjadi kampus inklusif," kata Arif sesudah pelantikan dan serah terima jabatan kemarin.


Read More»

    If you would like to receive our RSS updates via email, simply enter your email address below click subscribe.

back to top