Terkini di PLD:
Loading...

Training Kelas Inklusif untuk Dosen-dosen FEBI

Pada Jumat (13/04/2018) kemarin, Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan Traning Kelas Inklusif untuk Dosen-dosen FEBI. Traning ditujukan secara khusus untuk mereka yang sudah dan akan mengajar salah satu mahasiswa Tuli di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Selain para dosen, acara juga dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Shofiyullah, dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Casmini.

Peserta Inclusive Class Training

Kegiatan traning ini dibagi dalam dua sesi. Pertama, sesi berbagi pengalaman mengajar difabel. Kedua, sesi training adaptasi dan modifikasi kelas inklusif.

Sesi pertama training difasilitasi oleh Arif Maftuhin, Kepala PLD, dan ditujukan untuk menggali kendala, hambatan, dan sekaligus succes story mengajar kelas yang di dalamnya terdapat mahasiswa Tuli. Untuk mengantarkan diskusi, mahasiswa Tuli yang ada di FEBI juga dihadirkan di ruangan untuk menceritakan pengalamannya belajar di FEBI.

MG, mahasiswa semester 2 di FEBI, mengatakan bahwa secara umum ia dapat membedakan dua jenis mata kuliah: mata kuliah yang bersifat praktis dan matematis di satu kelompok; dan mata kuliah teoretis di kelompok yang lain. Ia menyatakan bahwa untuk mata kuliah matematis ia tidak banyak menemui hambatan. Ia cukup mampu mengikuti setiap materi yang disajikan. Kalau pun ada yang tidak jelas, ia dapat mengejar ketertinggalan dengan dibantu relawan pendamping dari PLD.

MG juga berharap agar para dosen belajar dan mengerti bahasa isyarat meskipun sedikit agar ia bisa lebih komunikatif dengan mereka.

Setelah mendengar pengalaman belajar MG, semua dosen yang pernah mengajar mahasiswa Tuli di semester gasal atau sedang mengajar di semester genap diminta untk menceritakan pengalaman mereka. Dari pengalaman mereka didaptkan berbagai informasi berikut:
  1. Meskipun PLD membekali mahasiswa dengan surat pengantar untuk memperkenalkan mahasiswa dan disabilitasnya, tidak semua dosen segera mengetahui adanya mahasiswa difabel karena mahasiswa difabel tidak datang di pertemuan pertama atau kedua.
  2. Karena tidak mengetahui adanya mahasiswa difabel, maka dosen juga tidak mengetahui adanya pendamping difabel. Akibatnya pernah terjadi salah paham karena mengira si pendamping ngobrol sendiri di kelas padahal dosen sedang ceramah.
  3. Dosen tidak memahami hambatan bahasa dan kosakata mahasiswa Tuli karena mengira bahwa mahasiswa Tuli hanyalah orang yang tidak mendengar. Tidak terpikirkan sama sekali bahwa mereka tidak dapat memahami teks bahasa Indonesia seperti orang dengar karena teks bagi Tuli bukan lambang yang berbunyi tetapi lambang bermakna dan kemampuan memaknai Tuli saering terhambat oleh miminmnya kosakata.
  4. Secara umum, para dosen FEBI terbuka untuk mengakomodasi kebutuhan difabel. Para dosen siap bekerjasama dengan PLD untuk memastikan kesuksesan belajar mahasiswa difabel dan kebutuhan pembelajaran mereka dapat terpenuhi.
 
Para dosen FEBI berbagi pengalaman mengajar

Merancang Kelas Inklusif
Setelah mendengar pengalaman difabel dan para dosen dalam mengajar, sesi kedua didesain untuk memberikan penjalasan kepada para dosen tentang bagaimana merancang kelas yang inklusif. Forum pengayaan materi diberikan oleh Liana Aisyah, ahli pendidikan inklusif PLD dan dosen di prodi Pendidikan Kimia.
Liana Aisyah sedang memberikan materi 9 Strategi Kelas Inklusif

Di awal sesinya, Liana mengatakan bahwa dari apa yang tadi ia dengar di sesi pertama, ia merasa senang bahwa para dosen sesunggunhya sudah menerapkan berbagai model pembelajaran adaptif yang diperlukan untuk mewujudkan kelas yangt inklusif. "Saya gembira karena beban saya untuk menjelaskan menjadi lebih ringan dan bahwa Bapak ibu sebenarnya lebih berpengalaman dari saya sendiri."

Rangkuman materi Liana dapat dilihat dalam slide berikut


You Might Also Like

1 comments