Terkini di PLD:
Loading...
, , ,

Pelatihan Relawan Inklusi Semester Ganjil 2015/2016

Yogyakarta, Senin (14/09) telah diadakan “Pelatihan Relawan Inklusi Semester Ganjil 2015/2016”  bertempat di Ruang Pertemuan lantai 3 Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga. Acara ini merupakan agenda rutin tiap semester Pusat Layanan Difabel (PLD). Tujuannya untuk memberikan bekal dan ketrampilan relawan baru dalam mendampingi perkuliahan mahasiswa difabel di kampus. Selain itu mereka juga nantinya akan menjadi salah satu agen yang membantu mengkampanyekan inkusivitas di kampus maupun luar kampus.
    Animo pendaftar relawan tahun ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai fakultas dan Program Studi, bahkan ada pendaftar mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga dan mahasiswa S3 dari Universitas Gajah Mada (UGM). Keingintahuan dan kepedulian terhadap isu-isu inklusi mendorong berbagai pihak untuk bergabung bersama PLD. Jumlah yang banyak ini tak luput pula dari peran Forum Sahabat Inklusi (ForSi) dalam membantu menyebarkan informasi kerelawanan, mulai dari mulut ke mulut, penempelan poster ke setiap fakultas, sharing poster ke media online hingga membuka stand pendaftaran secara terbuka.
Banyaknya pendaftar yang mencapai ratusan membuat kegiatan pelatihan dibagi menjadi dua kloter, yakni Hari Senin dan Rabu di minggu yang sama. Hal ini juga untuk mengantisipasi peserta yang berhalangan hadir karena pelatihan dilakukan di hari kerja.
Acara dimulai pada pukul 09.00 diawali dengan penjelasan profil Pusat Layanan Difabel oleh Jamil Suprihatiningrum. Selanjutnya pengenalan istilah difabel, pendampingan difabel oleh relawan serta sharing pengalaman oleh Alumni Abdullah Fikri. Fikri menjelaskan PLD menggawangi bagaimana kampus inklusif terbangun di UIN Sunan Kalijaga, bagaimana struktur sosial terbangun: tidak menyalahkan difabel. “Gedung kampus yang tidak aksesibel bukan berarti difabel tidak mampu,”tambahnya. Ia juga berpesan hendaknya relawan harus mengubah paradigma, yang tadinya berangkat dari rasa kasihan, kemudian mulai membangun jiwa sosial dan menjadikan difabel sebagai sahabat.
Sesi ketiga penjelasan mengenai etika pendampingan relawan oleh Siti Aminah. Aminah memulai presentasinya dengan memaparkan permasalahan kerelawanan dan alur menjadi relawan di PLD. Pembekalan etika kerelawanan bertujuan memberikan rambu-rambu apa yang harus dan tidaak harus dilakukan oleh seorang relawan. Pendampingan relawan meliputi pendampingancinput KRS, orientasi ruangan awal semester, layanan mobilitas, note-taking, text reading, alih-format materi kuliah, pendampingan UTS/UAS dan pendampingan skripsi. Ketrampilan yang harus dimiliki relawan di antaranya ketrampilan menggandeng, menyapa, pengetahun dan pencarian solusi.”Menjadi relawan niatkan untuk aktualisasi diri, bukan hanya sekadar menggali,” pesan Aminah. Maksudnya, para relawan tidak hanya melakukan tugas kerelawanan saja, tetapi sebaiknya mereka juga mengembangkan bakat mereka untuk membantu PLD dalam membangun kampus inklusif.
Menjelang siang hari acara dilanjutkan dengan sesi sharing dan tanya jawab oleh relawan baru, relawan lama, mahasiswa difabel dan pemateri, kemudian ditutup dengan pengisian blanko rencana para relawan setelah mendapat pembekalan hari itu. (Iis)

Kabar terkait ...

0 comments