Terkini di PLD:
Loading...
,

Monthly Coffeebility April: Media Sebagai Strategi Propaganda advokasi Difabel



Monthly Coffeebility edisi April kali ini bertema Media Sebagai Strategi Propaganda Advokasi Difabel dengan pembica Ajiwan Arief Hendradi, S.S. Ia merupakan redaktur pelaksana dari solider.or.id. Abdullah Fikri, M.S.I  membuka diskusi yang dihadiri 35 orang pada Rabu (26/4) di Kantor PLD, Gedung Rektorat Lama Lt. 1, Kampus Timur UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Abdullah Fikri menghantarkan diskusi denga melontarkan pertanyaan bagaimana peran media dalam mengkonstruksi isu difabel agar bisa berkembang dan dipahami oleh masyarakat luas. Diskusi berjalan sekitar 2 jam. Pemaparan Ajiwan berlangsung sekitar 45 menit, sisanya berlangsung tanya jawab.

Pertumbuhan penetrasi smartphone dan media hari ini sangat pesat. Ajiwan mengatakan, “Media berpeluang untuk menyuarakan hal-hal positif tentang isu-isu yang jarang diangkat, utamanya difabel”.

Solider merupakan media dari SIGAB berkecimpung di dunia advokasi difabel. Solider hadir sebagai media alternatif di tengah media mainstream yang jarang membahas difabel. Media mainstream belum memberikan porsi yang cukup tentang informasi dunia difabel. “ Meskipun media sudah beragam, isu difabel sedikit dilirik oleh teman-teman media, karena tidak seksi dan marketable bagi media arus utama.” Papar Ajiwan.

Propaganda ini mengalami hambatan karena kurangnya pegiat dalam isu difabel, terutama dari para difabel sendiri. Selain itu, masih sering ditemukan adanya stigma buruk untuk difabel. Ajiwan sering menyesalkan adanya diksi yang menimbulkan kesan negatif terhadap difabel, seperti “Meski buntung, tetap beruntung”. Seringkali dalam media, isu difabel yang diangkat masih seputar kelebihan atau keterbatasan. Advokasi difabel masih belum menjadi perhatian bagi media arus utama.

Ajiwan memberikan langkah-langkah strategis bagaimana cara mempropagandakan isu-isu difabel. Ia juga mengungkapkan bahwa media sosial juga bisa menjadi media alternatif. Media sosial seperti facebook dan twitter.

Bu Septi, perwakilan dari SLBN 2 Yogyakarta menanyakan bagaimana cara membedakan bantuan yang bersifat “mengasihani” atau produktif. Ajiwan menjabarkan bahwa bantuan itu dilihat dari kebermanfaatannya. Ia mencontohkan bantuan kursi roda bagi tunadaksa sebagai bantuan yang produktif. Bantuan berupa uang sering didentifikasikan menjadi bantuan yang “mengasihani”, akan tetapi jika di-monitoring itu bisa dikategorikan menjadi bantuan yang produktif.

Pertemuan ini diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dan ditutup oleh Fikri. Intinya, media sebagai pilar demokrasi memiliki peran yang sangat penting dalam menyuarak isu difabel,terutama advokasi difabel. Fikri menutup dengan aksioma “sesiapapun yang ingin meguasai dunia hari ini, maka kuasailah media.”

You Might Also Like

0 comments

About me

Like us on Facebook