Terkini di PLD:
Loading...

Monthly Desember: Kesehatan Reproduksi bagi Difabel





Rabu, 11 November 2019, PLD menggelar diskusi “Monthly Coffeebility” dengan tema “Kesehatan Reproduksi bagi Difabel”. Hadir sebagai pembicara Rini Rindawati dari Team Hola Women Disability Crisis Center Sentra Advokasi Perempuan dan Anak (SAPDA) dan Hani Atus Suroiyah yaitu Orangtua Penyandang Disabilitas Intektual. Diskusi ini dimulai pada pukul 14.00 sampai 16.00 bertempat di Kantor PLD Lt.1 Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi ini dimoderasi oleh Husnil Khatimah Nst.

Mengacu pada pasal 5 Undang Undang Penyandang Disabilitas ayat (1), aksesibilitas, pelayanan publik, dan memperoleh informasi merupakan tiga di antara hak-hak difabel yang harus dipenuhi oleh negara. Sayangnya, ketersediaan informasi yang memadai dalam banyak aspek kehidupan difabel belum memadai, termasuk akses mengenai kesehatan reproduksi.

Setiap remaja mengalami fase perkembangan seksual dan reproduksi, tak terkecuali remaja difabel. Perkembangan pada setiap remaja serupa, namun tidak seragam. Dalam diskusi ini, Rini meluruskan kembali stigma bahwa difabel itu mengalami hal yang sama dengan non difabel dalam fungsi reproduksi. Seperti contoh, jika non difabel mengalami menstruasi maka difabel juga sama.


Kesehatan reproduksi adalah adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi, dan juga proses reproduksi yang dimiliki oleh setiap orang, utamanya anak/remaja.  Materi yang diajarkan dalam kesehatan reproduksi menyangkut pengenalan organ reproduksi, masa puber, ragam difabel, mitos, Infeksi Menular Seksual (IMS), dan kekerasan seksual. Hal tersebut signifikan setidaknya karena empat alasan. Pertama. Untuk kesehatan reproduksi anak/remaja itu sendiri. Kedua, untuk mencegah risiko kekerasan seksual terhadap anak/remaja difabel. Ketiga, sebagai upaya pencegahan menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual. Keempat, untuk membekali proses selanjutnya (menikah).


Ada kesenjangan mengenai informasi yang sampai kepada remaja difabel. Kesenjangan tersebut terjadi akibat perbedaan tingkat pemahaman, penyerapan informasi, dan kemampuan berkomunikasi yang bermacam-macam. Kesenjangan itu harus diatasi agar tidak terjadi korban kekerasan. Oleh karena itu, Rini yang tergabung dalam Team Hola Women Disability Crisis Center di SAPDA mengusahakan berbagai cara untuk memberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi kepada difabel. Pusat krisis tersebut tidak hanya memberikan infromasi kesehatan reproduksi namun juga menerima laporan tindak kekerasan yang dialami oleh difabel.

Peran orangtua sangat vital dalam memberikan pemahaman perkembangan seksual dan reproduksi yang dialami remaja difabel. Hal tersebut diamini oleh salah satu peserta diskusi yang datang dengan anaknya yang autis. Ia mengajarkan anaknya mengenai konsep reproduksi dan seksual. Ia membenarkan bahwa mengajarkan kesehatan reproduksi dan seksual sejak dini sangat bermanfaat bagi anaknya.  

Hani, ibu dari seorang difabel grahita yang juga pembicara dalam diskusi ini menyoroti dua hal mengenai kesehatan reproduksi. Pertama, ia mengatakan bahwa kesehatan reproduksi dan pemahaman terhadap perkembangan seksual harus diberikan kepada seorang anak sejak dini. Ukuran sejak dini bagi Hani adalah ketika anak tersebut sudah dapat diajak untuk berkomunikasi. Kedua, di era digital anak harus diarahkan dalam menggunakan gawai yang benar.

Dinas kesehatan terkait seperti puskesmas sudah menyediakan Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang termasuk layanan kesehatan reproduksi dan seksual, meskipun belum aksesibel. Harapan ke depan, orangtua berinisiatif untuk mencari tahu mengenai hal tersebut ke puskesmas. Bagi pihak puskesmas, diharapkan untuk mengutamakan remaja difabel dalam memberikan informasi dan pelayanan mengenai kesehatan reproduksi dan seksual serta meningkatkan aksesibilitas pelayanan tersebut bagi berbagaim macam jenis difabel. Misal, difabel intelektual membutuhkan waktu yang lama untuk memahami daripada difabel netra. Alat peraga bagi difabel netra dan Tuli juga berbeda. Intinya, informasi yang akan disampaikan harus disesuaikan dengan berbagai macam difabel.

SAPDA menyediakan beberapa media yagn aksesibel dalam informasi seksual dan reproduksi. Mereka telah mengeluarkan buku yang berjudul “Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja dengan Disabilitas: Panduan bagi Orangtua dan Pendamping”. Selain itu, juga ada media boneka sebagai pengenalan perbedaan organ reproduksi. Peraga Body Mapping untuk mendemonstrasikan sentuhan aman. Pin perkemabangan manusia dari bayi hingga dewasa. Selain itu, ada film edukasi mengenai reproduksi yang bisa dilihat di sini.







Kabar terkait ...

0 comments