Terkini di PLD:
Loading...
,

Orientasi kerelawanan Gelombang 4

Kepala PLD berbagi kisah dengan para relawan baru

Jumat (07/10/2016). Pusat layanan Difabel (PLD) kembali melaksanakan orientasi kerelawanan yang keempat. Acara bertempat di Gedung Rektorat lama Lt. 2. Kepala PLD, Dr. Arif Maftuhin M.A, memimpin langsung acara tersebut. Peserta berasal dari berbagai Fakultas dan merupakan relawan baru di PLD.

Acara dimulai dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan bergabung dengan PLD. Mayoritas dari mereka memiliki alasan yang sama yaitu membantu teman-teman berkebutuhan khusus. Salah satu peserta, Ananda Erma Eka, menyampaikan bahwa di sekolahnya dulu ada dua temannya yang memiliki keistimewaan. Teman pertamamemiliki keterbatasan dalam penglihatan dan yang kedua memiliki emosional yang sulit dikendalikan. Seperti ketika menghadapi ujian, ia tiba-tiba merasa panik dan histeris. "Ketika di SMA saya merasa tidak mampu membantu mereka. Karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Itulah sebabnya aku ingin membayar hutangku dulu dengan belajar di PLD" kisahnya.

Ananda juga sempat bertanya, apakah temannya yang kedua termasuk Difabel? "Menurut undang-undang No 8 tahun 2016, Difabel adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, atau sensorik dalam jangka waktu lama. Artinya Difabel memiliki kategori yang luas. Ya, temanmu adalah salah satunya," jelas Arif.

Acara dilanjutkan dengan mengenal sejarah PLD, penyampaian materi kerelawanan dan rencana jangka panjang PLD. Arif menjelaskan bahwa terdapat empat tahap karir untuk relawan: pengetahuan dan komitmen, ketrampilan dasar pendampingan, ketrampilan khusus (seperti bahasa isyarat) dan relawan mahir setelah menempuh jam pendampingan yang lama. "Semua dirancang agar setiap relawan mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan profesional," tandasnya.

Pendampingan yang dilakukan oleh relawan tidak hanya sebatas proses pembelajaran di kelas bagi mahasiswa Tuli. Tetapi juga meliputi mobilitas di kampus seperti mencari referensi di perpustakaan, menunjukkan kantin kampus, membantu editing dan seputar tugas kuliah lainnya. Hal tersebut disesuaikan dengan hambatan yang dialami oleh masing-masing mahasiswa difabel.

Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab seputar PLD dan Difabel. Titana Diva asal Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) menyampaikan bahwa Ia masih merasa takut ketika berinteraksi dengan teman-teman difabel, "Aku takut salah bicara. Takut menyinggung perasaan," ungkapnya. Relawan lain yang sudah sering berinteraksi dengan difabel menyampaikan etika dalam berkomunikasi dengan difabel. Misalnya, harus fokus dalam berkomunikasi dengan difabel Tuli. Menatap mata dan berusaha menangkap pesan yang disampaikan. "Bercanda dengan difabel cara untuk mencairkan suasana dan lebih dekat dengan teman-teman difabel," tambah Arif.

Hal semacam itu juga dirasakan oleh relawan-relawan lainnya. Diskusi merambat sampai pada membahas setiap difabel dan cara menghadapinya. Sama halnya dengan orang pada umumnya yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Semangat relawan sangat terlihat ketika menyampaikan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hingga berakhir pada ujung acara."PLD adalah rumah kita. Semua orang pasti berharap rumah kita menjadi nyaman. Maka buatlah rumah ini menjadi nyaman untuk kita bersama. Sering-seringlah mengunjungi PLD agar semakin terasa nyaman," tutup Arif sebagai pesannya untuk relawan. (faroha)

You Might Also Like

0 comments

About me

Like us on Facebook