Terkini di PLD:
Loading...

Interaksi Sosial Mahasiswa Difabel



Oleh: Aprilia Larasati *)

Kaum difabel atau sering disebut masyarakat awam sebagai orang yang cacat merupakan salah satu anggota masyarakat. Mereka perlu diperhatikan seperti anggota masyarakat yang lain. Karena mereka adalah manusia yang sama seperti manusia pada umumnya, mereka tetap manusia yang mempunyai hak yang sama seperti manusia pada umumnya.

Pola pikir masyarakat yang menganggap adanya “manusia cacat” dan “manusia normal” mengakibatkan kaum difabel semakin tersingkirkan dan mengakibatkan timbulnya rasa rendah diri dalam diri mereka. Tidak adanya kesempatan dan kepercayaan terhadap kaum difabel kadang menjadi penyebab terasingnya kaum difabel dalam kegiatan bermasyarakat. Selain itu keterbatasan dalam diri difabel menjadi penghalang lain bagi mereka untuk ikut andil dalam kehidupan bermasyarakat.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah salah satu perguruan tinggi yang memberikan kesempatan kepada kaum difabel untuk menuntut ilmu. Berdirinya Pusat Layanan Difabel (PLD) adalah salah satu bentuk bantuan untuk mempermudah mahasiswa difabel dalam mengakses kampus, menyediakan alat-alat yang aksesibel, serta relawan pendamping untuk berbagai kebutuhan.

Dengan dibukanya UIN Sunan Kalijaga sebagai salah satu perguruan tinggi yang menerima difabel, maka akan ada keragaman mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Nah, bagaimanakah interaksi sosial mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga?

Hidup terkadang tidak sesuai dengan harapan yang sering membuat kecewa, tapi di balik semua itu pasti tersimpan hikmah bagi kita sendiri. Sama halnya dengan mahasiswa difabel, dengan keadaan mereka yang tidak sesuai keinginan, mereka perlu waktu untuk bisa menerima diri mereka apa adanya. Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan, mahasiswa difabel sesungguhnya memiliki pandangan hidup yang sama dengan manusia pada umumnya: mereka ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Sama seperti mahasiswa lain, mahasiswa difabel juga memiliki kegiatan, baik kegiatan di luar kampus maupun kegiatan di dalam kampus. Mereka juga ingin berinteraksi dengan orang lain, berbagi ilmu dan pengalaman dengan orang lain pula. 

Ada kesinambungan antara kegiatan yang dilakukan mahasiswa difabel dengan interaksi sosial mahasiswa difabel, karena semakin banyak kegiatan yang dilakukan difabel baik kegiatan di kelas atau di luar kelas maka akan semakin banyak kesempatan mahasiswa difabel untuk melakukan kontak sosial dengan mahasiswa lain.

Dalam buku Soerjono Soekanto disebutkan bahwa interaksi terjadi karena adanya kontak antara individu dengan individu lainnya. Dari sini bisa dilihat bahwa kegiatan- kegiatan yanng dilakukan mahasiswa difabel mampu menjadi awal yang baik untuk melihat dan memulai bagaimana interaksi sosial mahasiswa difabel. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi mahasiswa difabel dapat dilihat dari tiga tema: (1) pentingnya makna bagi perilaku manusia, (2) pentingnya konsep mengenai diri, dan (3) hubungan antara individu dengan masyarakat.

Menurut teori interaksi simbolik makna timbul dari hasil interaksi dan dari makna timbul mengenai konsep diri lalu akan menentukan hubungan sosial individu. Keterbatasan dan ketidakmampuan yang sudah melekat pada kaum difabel merupakan makna atau simbol hasil dari interaksi sosial, yang artinya kedifabelan bukanlah kutukan atau kesalahan, kedifabelan atau kecacatan muncul karena struktur yang ada pada masyarakat. Jadi, cacat itu tidak ada, namun karena struktur sosial yang ada pada masyarakat yang menjadikan makna bahwa orang berbeda dengan mereka atau tidak sama bentuk fisiknya dengan orang kebanyakaan disebut cacat.

Dengan adanya makna maka akan ada konsep diri. Konsep diri yang merupakan hasil dari pemaknaan tersebut akan menentukan sikap dari individu tersebut sebagai hasil dari tanggapan makna tersebut dan akan menentukan hubungan sosial individu dengan masyarakat.

Ada beberapa faktor pendorong yang akan menentukan sikap dan perilaku yang akhirnya berpengaruh terhadap interaksi sosial individu tersebut dalam masyarakat, yakni sugesti,imitasi, identifikasi,dan simpati.

***

Kekurangan dan keterbatasan selalu dikaitkan dengan kaum difabel, sehingga timbul kesan bahwa kaum difabel adalah kaum yang lemah. Sehingga tidak jarang kehidupan kaum difabel menjadi terasing. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga. Hal ini dikarenakan pandangan mahasiswa difabel tentang keadaan yang menimpanya. Keterbatasan yang sudah menjadi hal yang tak terpisahkan dari mahasiswa difabel tidak menjadikan mereka putus harapan, terbukti dengan mereka masuk perguruan tinggi mereka memberikan gambaran bahwa mereka ingin maju seperti manusia pada umumnya, dan berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Pengaruh pandangan hidup dalam menetukkan motif sikap mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam interaksi sosial perlu menjadi perhatian khusus bagi pihak yang dekat dengannya.

*) Mahasiswa Sosisologi Agama, UIN Sunan Kalijaga

You Might Also Like

1 comments

About me

Like us on Facebook